Apa itu terorisme?

Terjadinya pengeboman dan insiden penembakan warga sipil di Paris pada hari jumat lalu kembali mengingatkan publik akan bahaya serangan terorisme yang sering tak terduga kejadiannya. Laporan terakhir menyebutkan bahwa 129 jiwa melayang dalam insiden ini. Tentu semua orang mengutuk keras akan aksi terorisme yang dilakukan pihak yang mengaku "menjunjung keadilan" dengan membunuh warga sipil yang tak berdosa. Apa sebenarnya terorisme itu? Mengapa ada sekelompok orang yang tega membunuh orang lain?

Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Menurut KBBI teror sebagai usaha untuk menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan tertentu (Depdikbud, 2013). Berbeda denga perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak yang sebagian besar adalah warga sipil. Aksi teror yang terkoordinasi biasanya memiliki tujuan politik dan kebutuhan untuk kepentingan sesaat.

Para ahli kontra-teroris mengatakan bahwa istilah teroris merujuk pada pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serang-serangan teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan, oleh karena itu para pelaku teror layak mendapatkan hukuman yang berat. 

Makna negatif dari kata teroris sering dikaitkan dengan jihad, padahal jihad dan orang yang berjihad (mujahidin) jauh dari tindakan terorisme yang sering menyerang warga sipil yang tidak terlibat dalam perang. Banyak aturan yang harus ditaati dalam berjihad antara lain tidak membunuh anak-anak dan perempuan yang tidak ikut dalam perang, tidak menghancurkan rumah ibadah dll. Jauh dari aksi terorisme yang terjadi akhir-akhir ini yang sering muncul dengan mengatasnamakan agama. 

Radikalisasi di kalangan pemuda menjadi ladang perekrutan oleh organisasi teroris, karena masa muda yang berapi-api serta minimnya pengetahuan agama dan arti dari jihad itu sendiri membuat mereka mudah dicuci otaknya dengan berbagai macam ideologi sesat yang diajarkan kepada mereka. Padahal pemuda adalah tiang suatu bangsa, keberhasilan serta kemajuan pembangunan bangsa akan sangat ditentukan oleh kreatifitas para pemudanya. Tentunya kreatifitas pemuda yang dimaksud dalam lingkup positif yang terus menghasilkan inovasi dalam mengembangkan bangsa, bukan melakukan pembomanan. Jika otak teroris dibiarkan, maka pengaruh mereka kepada pemuda bangsa tentu akan sangat merugikan perkembangan bangsa kedepannya. 

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »